selamat datang, salam kenal :)

Minggu, September 25, 2011

Kemah Musim Kemarau

Pelantikan. Bukan hanya sekedar dilantik. Tentu saja ada prosesnya. Saya anggota PASMAN, pecinta alam SMA Negeri. Untuk mendapat gelar senior, bukanlah suatu hal yang mudah. Tentu saja. Kami dididik keras walaupun kata para alumni pasman, didikan yang kami jalani masih sangat lembek. "PASMAN itu keras," kata mereka.

Sabtu sore, kami datang ke Gunung Mandiangin. Basecamp kami dikelilingi sungai. Hanya saja, musim kemarau, sungai-sungai kering kerontang. Bukan air yang ada di cekungan itu, melainkan tumpukan tebal daun-daun berwarna cokelat. Saat angin bertiup kencang, daun-daun hijau di pohon bergemerisik, lalu beberapa helaian cokelat jatuh ke tanah.

Saya tidak ingin menceritakan hal-hal menyakitkan yang saya dapat, tapi pengalaman indah yang saya lihat. Tengah malam ketika jurid malam, sekeliling saya gelap. Bulan tidak bersinar terang.

Tapi.. Ketika saya menatap langit, saya disuguhi pemandangan yang menawan. Langit luas yang cerah, bintang bertaburan begitu banyaknya. Berkerlip menggoda. Seakan menemani. Di sebelah kanannya pegunungan berdiri dengan gagahnya. Angin bertiup lembut membelai..

Bukankah itu romantis? Saya memang tidak pandai menggambarkan dengan kata-kata, tapi saya tau jelas bahwa ketika itu saya benar-benar terpesona.

Kapan lagi saya bisa menikmati pemandangan seperti itu? Karena jika saya berada dalam waktu yang sama di tempat yang biasa, mungkin saya masih enggan mengalihkan mata dari layar monitor.

Minggu, September 18, 2011

XI IPA 1

Itu kelas saya sekarang, XI IPA 1. Mungkin agak berat menyandang gelar IPA 1, tapi padahal apa sih bedanya sama IPA 2 IPA 3, karena di SMAMA memang tidak memandang kasta kelas, setiap peringkat di acak perkelasnya hingga tidak ada lagi kelas terpintar ataupun terbodoh. Semuanya 'sama'. Tapi, ya ampun.. Apa anak IPA memang harus berwajah serius seperti itu? Apa kelas IPA memang dituntut jadi kelas yang hening, sepi, dan suram? Mengerikan. Terlebih lagi kelas saya memang terletak di samping kuburan, gyaaaa *stop! berhenti membicarakan kuburan! -siapa yang mulai? =.=*

Itu kelas saya sekarang. Begitu mendepresikan. Mengerikan. Suram. Astaga.. Bisa dibilang saya terbiasa dengan kelas yang ramai, yang penuh canda tawa.. Saya terbiasa dengan kelas yang ribut saat jam istirahat, meramaikan kelas bercanda satu sama lain, setidaknya kelas masih ada suaranya. Tapi ini? Saat bel istirahat, mereka semua keluar kelas. Mengejar makanan di kantin, lalu berbaur dengan kelompoknya di koridor kelas lain. Saat jam kosong, mereka duduk diam dengan kegiatannya masing-masing. Sepi. Hening. Membuat wajah saya selalu menegang. Yah, sekarang saya merasa, itu seperti bukan kelas saya. Bukan habitat saya.

Saya terbiasa dengan makhluk-makhluk X2 yang jajan makanan minuman di koperasi, lalu membawanya ke kelas dan berbagi dengan yang lain. Saya terbiasa dengan tradisi X2 yang tiap jam istirahat, ngemper di belakang kelas untuk membuka bekalnya, di sudut lain kelas ada yang breakdance, ada yang nyanyi-nyanyi.. Astaga, saya merindukan momen-momen itu.

Tapi, inilah kelas saya sekarang. XI IPA 1. Kelas yang di plafonnya terpasang 2 kipas angin, tapi tidak ada satupun yang bisa dinyalakan. Proyektor kelas yang hilang dan belum diganti. Dan banyak keramik yang pecah. Mengerikan, saya benar-benar tersiksa saat jam terakhir, kelas ini sangat pengap, panas, dan gerah. Ya ampun.. Apakah guru-guru jam pelajaran terakhir tidak pernah merasakan itu?

*keluhan-labil-anak-sekolahan*


---
Seminggu terakhir ini nafsu makan saya turun drastis. Mungkin ini karena saya naik angkot, ya, mau tidak mau setiap pulang sekolah saya harus berjalan ke jalan depan komplek biar dapat angkot. Dari gerbang sekolah ke depan komplek tersedia berbagai macam jajanan seperti gorengan, batagor, pempek, dan minuman blender. Jelas saja saya tergoda. Saya biasa membeli minuman blender yang manis-manis itu, sehingga ketika sampai rumah saya sudah tidak bernafsu makan. Makan siang ditunda sampai sore, dan akhirnya saya tidak makan malam. Suram. Saya tidak perlu heran jika 2-3 bulan ke depan badan saya jadi lebih langsing (?)

Saya juga tidak jarang menggalau, ketika glukosa di tubuh saya berlebihan dan perut saya menolak diberi makanan, tangan saya malah gemetaran lemas dan perut saya bergemuruh. Pernah juga saat saya tidak merasa ngantuk, tapi mata saya malah sepet minta merem. Benar-benar galau.


Saya sekarang jadi lebih sering mendengarkan musik. Setidak nya itu sedikit me-relax-kan urat-urat saya yang tegang, dan mengalihkan pikiran saya dari pelajaran-pelajaran sekolah itu..



Yay, tampaknya saya harus mengatur jadwal untuk membersihkan kamar saya! Mencopot tempelan di dinding dan mengecat ulang kamar berantakan itu. Hufh.. Liat-liat kalender sih, sampai bulan desember ini, tanggal merah hanya ada di hari minggu, ya ampun!

--

Btw, sampai saat ini saya males membawa kamera ke sekolah. Tidak ada hal menarik yang bisa saya abadikan di kelas itu.

Minggu, September 11, 2011

Enjoy Time

Kesimpulannya, setelah setahun lebih saya menduduki bangku SMA..,

Saat-saat yang paling saya tunggu-tunggu itu adalah sabtu sore. Ya, semua orang juga biasanya menyukai weekend. Tapi, saya benar-benar menunggu sabtu sore. Sabtu. Sore. Karena hanya saat itu saya bisa melepaskan pikiran dari segala macam tugas sekolah ataupun ulangan. Menikmati kenyataan bahwa besoknya adalah hari libur. Menikmati keadaan bisa tidur saat benar-benar mengantuk ketika dini hari. Melepaskan pikiran dari ketakutan akan bangun kesiangan, dari wajah-wajah guru-guru dengan latar gerbang sekolah. Saya tidak perlu menyentuh buku pelajaran.

Dan semua berakhir ketika saya membuka mata di hari minggu. Mensyukuri diri masih diberi nafas oleh Yang Maha Kuasa, setelah itu gambaran sekolah mulai berputar-putar di kepala saya. Menyiapkan strategi menghadapi hari esok.

Waktunya nyuci seragam sekolah~

Selasa, September 06, 2011

Kunjungan yang...

Rumah-rumah berjejer di sepanjang jalan itu.
telpon : tuutt
Tias : halo, bu, rumah ibu yang mana?
Bu Nunu : pokoknya yang catnya warna oren,

Sebuah rumah bercat oranye berdiri di hadapan mereka. Seorang wanita berkerudung masuk, lalu keluar seorang laki-laki paruh baya dari dalam rumah.
Sajid : (berbisik) tias, bu Nunu tambah kurus ya

Mereka : Assalamu'alaikum
si Bapak : Wa'alaikum salam.. eeh, ayo masuk, masuk. Orangnya lagi ganti baju..

Dengan asumsi bahwa si bapak tersebut adalah suami Bu Nunu, mereka pun masuk.
Tias : (berbisik) ko rumahnya berasa beda ya?
Sajid : kita kan sudah setahun ngga ke sini
Tias : hmm

Tri masuk ke dalam rumah duluan, disusul yang lain. Mereka duduk, tanpa malu-malu mulai mengunyah kue-kue yang disediakan.
si Bapak : temen-temennya Astri ya?
Tias : *bengong* (nengok ke Bunga, berbisik) Bung, siapa Astri, Bung?
Bunga : (balas bisik) paling anaknya Bu Nunu
Tias : (menjawab si bapak) eng... iya
si Bapak : temen di sekolah atau di taekwondo?
Tias : (panik, berbisik) anaknya Bu Nunu kan sudah kawin semua?
Bunga : ngga tauuuu (ikut panik)

Seorang gadis seumuran mereka keluar dari kamar,
si Bapak : Astri, ini loh temen-temenmu
Astri : (melihat mereka satu persatu) ... (bengong) ...
Mereka : (bengong) ... (panik)
Astri : eeeh, Tias!
Tias : (tanpa banyak pikir, maju dan menyalami astri) minal aidin walfaidzin ya..
Astri : iya.. Minal aidin.. eh, tadi Edgar mau kesini
Tias : Edgar ngga pulang kampung?
Astri : engga...

Sedikit mengobrol, lalu tias berbisik ke Astri "Astri, rumahnya Bu Nunu yang mana? kami salah rumah.."

Setelah dijawab, dengan menahan malu mereka langsung berpamitan keluar dan menuju rumah aslinya Bu Nunu.

Di luar..
Mereka : kamu kenal dia?
Tias : engga! aku ngga kenal dia.. untung dia nyebut Edgar, temenku di SMA..

Merekapun terkakak-kikik sampai rumah Bu Nunu yang asli..


---
Saya mencoba membayangkan diri berada di posisi Astri, begitu keluar kamar, melihat orang-orang asing duduk di ruang tamu. Salah satu dari orang asing itu adalah teman satu sekolah, seangkatan, tapi bahkan sekalipun belum pernah saling bicara satu-sama lain. Kaget? Pasti. Mereka bilang salah rumah? Mungkin setelah mereka pergi saya akan masuk kamar, menutup wajah dengan bantal, dan terbahak sepuasnya.


---
cerita di atas diposting dengan perubahan seperlunya. Ketidak-akuratan dengan kisah aslinya harap dimaklumi.

Ias, teganya ikam ngebut ninggalakan aku sampai aku nyasar ke parak bandara! ku kira tu handak ke rumah pak arsyad tau lah! untung aku nyasarnya lawan ifan! kalo aku sorangan tu aku sudah bulik tau lah!