selamat datang, salam kenal :)

Kamis, Juni 23, 2011

Piano di Kotak Kaca



Wajah Sheila berubah murung. "Bapak mau bilang karena saya anak pembunuh, kan? Saya punya sifat kejam dalam diri saya, makanya berkali-kali saya mendapat masalah."
"Kamu memilikibanyak sifat istimewa. Kamu perhatian pada orang lain, kamu ingin sekali terlibat secara emosional dengan manusia lain. Singkatnya, kamu sensitif dan peduli terhadap orang lain. Tapi orang-orang dengan sifat seperti ini punya kelemahan."
"Apa kelemahannya?"
"Jika orang lain kurang peduli terhadapnya, ia akan membenci orang itu."

Sebuah miniatur piano menjadi kenangan terakhir Sehila akan ibunya. Ibunya meninggal karena dibunuh ayahnya sendiri dan sang ayah dipenjara. Tinggal Sheila sebatang kara, tanpa kasih sayang orang tua di usianya yang masih belia.
Uluran tangan dari saudara angkat ayahnya ternyata membawa kepahitan lain. Sheila dijadikan pembantu di tempat tinggalnya yang barudan berulang kali dianiaya secara mental. Sikap keras gadis itu sering kali dikaitkan dengan latar belakangnya yang berayah pembunuh. Sheila merasa takut akan emosinya yang mudah sekali meledak sehingga menyerang orang-orang yang melukai harga dirinya.
Satu-satunya orang yang mengulurkan tangan tulus padanya hanyalah Bram, pria timpang yang memendam banyak kepahitan akibat kondisi fisiknya. Bisakah ikatan yang terjalin di antara mereka mengembalikan jiwa Sheila yang terluka dan merindukan ibunya?

---

Novel yang mengharukan. Saya sendiri tidak tega membaca kisah Sheila yang kok kayaknya malaang terus. =.= Trus, gimana sih ya rasanya mencintai orang yang umurnya lebih tua 20 tahun daripada kita? hmm..

3 komentar:

Suke mengatakan...

klo malang terus kok kayak candy candy saja ya....
*pilemjadul :)

elmoudy mengatakan...

gw ga tegaan juga baca novel yg mengharu biru....
pantangan lah buat gw cowok masak nangis baca novel hahaaaaa

Sekolah Piano mengatakan...

Waduuh, baca sinopsisnya aja bikin sedih. Apalagi baca bukunya beneran ya? :)

Buku kalo bisa bikin kita terlibat emosi tuh berarti bagus bener.